Materi Air Sadah Kelas XII SMA
Kali ini Admin Mau Posting nih Materi Air Sadah Kelas XII SMA Semoga Artikel Ini BIsa bermanfaat>
Air
sadah adalah air yang mengandung ion Ca2+ dan Mg2+ biasanya terbentuk
dari garam karbonat atau sulfat. Air sadah mempunyai sifat yaitu
menyebabkan sabun sukar berbuih dan timbulnya sejenis karang dan kerak .
Sabun sukar berbuih karena ion Ca2+ dan Mg2+ mengendapkan sabun. Contoh
reaksinya :
Ca2+ + 2CH3 (CH2)16 COO- (ag) --> Ca (CH3 (CH2)16 COO2) (s)
Ion stearat pada sabun --> Endapan sabun
Ca2+ + 2CH3 (CH2)16 COO- (ag) --> Ca (CH3 (CH2)16 COO2) (s)
Ion stearat pada sabun --> Endapan sabun
Kesadahan
merupakan petunjuk kemampuan air untuk membentuk busa apabila dicampur
dengan sabun. Pada air berkesadahan rendah, air akan dapat membentuk
busa apabila dicampur dengan sabun, sedangkan pada air berkesadahan
tinggi tidak akan terbentuk busa. Disamping itu, kesadahan juga
merupakan petunjuk yang penting dalam hubungannya dengan usaha untuk
memanipulasi nilai pH.
Secara lebih rinci kesadahan dibagi dalam dua tipe, yaitu: (1) kesadahan umum (“general hardness” atau GH) dan (2) kesadahan karbonat (“carbonate hardness” atau
KH). Disamping dua tipe kesadahan tersebut, dikenal pula tipe
kesadahan yang lain yaitu yang disebut sebagai kesadahan total atau
total hardness. Kesadahan total merupakan penjumlahan dari GH dan KH.
Kesadahan umum atau “General Hardness” merupakan ukuran yang menunjukkan jumlah ion kalsium (Ca++) dan ion magnesium (Mg++)
dalam air. Ion-ion lain sebenarnya ikut pula mempengaruhi nilai GH,
akan tetapi pengaruhnya diketahui sangat kecil dan relatif sulit diukur
sehingga diabaikan.
GH pada umumnya dinyatakan dalam satuan ppm (part per million/ satu persejuta bagian) kalsium karbonat (CaCO3), tingkat kekerasan (dH), atau dengan menggunakan konsentrasi molar CaCO3.
Satu satuan kesadahan Jerman atau dH sama dengan 10 mg CaO (kalsium
oksida) per liter air. Kesadahan pada umumnya menggunakan satuan ppm
CaCO3, dengan demikian satu satuan Jerman (dH) dapat diekspresikan sebagai 17.8 ppm CaCO3.
Sedangkan satuan konsentrasi molar dari 1 mili ekuivalen = 2.8 dH =
50 ppm. Berikut adalah kriteria selang kesadahan yang biasa dipakai:
- 0 - 4 dH, 0 - 70 ppm : sangat rendah (sangat lunak)
- 4 - 8 dH, 70 – 140 ppm : rendah (lunak)
- 8 – 12 dH, 140 – 210 ppm : sedang
- 12 – 18 dH, 210 – 320 ppm : agak tinggi (agak keras)
- 18 – 30 dH, 320 – 530 ppm : tinggi (keras)
Dalam
kaitannya dengan proses biologi, GH lebih penting peranananya
dibandingkan dengan KH ataupun kesadahan total. Apabila ikan atau
tanaman dikatakan memerlukan air dengan kesadahan tinggi (keras) atau
rendah (lunak), hal ini pada dasarnya mengacu kepada GH.
Ketidaksesuaian GH akan mempengaruhi transfer hara/gizi dan hasil
sekresi melalui membran dan dapat mempengaruhi kesuburan, fungsi organ
dalam (seperti ginjal), dan pertumbuhan. Setiap jenis ikan memerlukan
kisaran kesadahan (GH) tertentu untuk hidupnya. Pada umumnya, hampir
semua jenis ikan dan tanaman dapat beradaptasi dengan kondisi GH lokal,
meskipun demikian, tidak demikian halnya dengan proses pemijahan.
Pemijahan bisa gagal apabila dilakukan pada nilai GH yang tidak tepat.
Kesadahan karbonat atau KH merupakan besaran yang menunjukkan kandungan ion bikarbonat (HCO3-) dan karbonat (CO3–)
di dalam air. KH sering disebut sebagai alkalinitas yaitu suatu
ekspresi dari kemampuan air untuk mengikat kemasaman (ion-ion yang
mampu mengikat H+). Oleh karena itu, dalam sistem air tawar,
istilah kesadahan karbonat, pengikat kemasaman, kapasitas pem-bufferan
asam, dan alkalinitas sering digunakan untuk menunjukkan hal yang sama.
Dalam hubungannya dengan kemampuan air mengikat kemasaman, KH berperan
sebagai agen pem-buffer-an yang berfungsi untuk menjaga kestabilan pH.
KH pada umumnya sering dinyatakan sebagai derajat kekerasan dan diekspresikan dalam CaCO3 seperti
halnya GH. Kesadahan karbonat dapat diturunkan dengan merebus air yang
bersangkutan, atau dengan melalukan air melewati gambut. Untuk menaikkan
kesadahan karbonat dapat dilakukan dengan menambahkan natrium
bikarbonat (soda kue), atau kalsium karbonat. Penambahan kalsium
karbonat akan menaikan sekaligus baik KH maupun GH dengan proporsi yang
sama.
Mineral yang merupakan sumber primer ion kalsium dalam air diantara mineral-mineral yang berperan adalah gips, CaSO4.2H2O; anhidratnya, CaSO4; dolomite, CaMg (CO3)2; kalsit dan argonite yang merupakan modifikasi yang berbeda dari CaCO3. Air yang mengandung karbon dioksida mudah melarutkan kalsium dari mineral-mineral karbonat.
CaCO3 + CO2 + H2O Ca2+ + 2HCO3-
Reaksi sebaliknya berlangsung bila CO2 hilang
dari perairan. karbondioksida yang masuk keperairan melalui
keseimbangan dengan atmosfer tidak cukup besar konsentrasinya untuk
melarutkan kalsium dalam perairan alami, terutama air tanah. Pernafasan
mikroorganisma, penghancur bahan organik dalam air, dan sediment
berperan sangat besar terhadap kadar CO2 dan HCO3- dalam air. Hal ini merupakan faktor penting dalam proses kimia perairan dan geokimia.
Ion
kalsium, bersama-sama dengan magnesium dan kadang-kadang kesadahan air,
baik yang bersifat kesadahan tetap. Kesadahan sementara disebabkan oleh
bikarbonat dalam air dan dapat dihilangkan dengan jalan mendidihkan air
tersebut karena terjadi reaksi:
Ca2+ +2 HCO3- CaCO3 + CO2 + H2O
Sedangkan kesadahan tetap disebabkan oleh adanya kalsium atau sulfat yang proses pelunakannya
melalui proses kapur – soda abu, proses zeolit, dan proses resin
organik. Air sadah juga tidak menguntungkan/mengganggu proses pencucian
menggunakan sabun. Bila sabun digunakan pada air sadah, mula-mula sabun
harus bereaksi terlebih dahulu dengan setiap ion kalsium dan magnesium
yang terdapat dalam air sebelum sabun dapat berfungsi menurunkan
tegangan permukaan. Hal ini bukan saja akan banyak memboroskan pengunaan
sabun, tetapi gumpalan-gumpalan yang terjadi akan mengendap sebagai
lapisan tipis pada alat-alat yang dicuci sehingga mengganggu pembersihan
dan pembilasan oleh air.
Air
sadah mengakibatkan konsumsi sabun lebih tinggi, karena adanya hubungan
kimiawi antara ion kesadahan dengan molekul sabun menyebabkan sifat
detergen sabun hilang. Kelebihan ion Ca2+ serta ion CO32-+ (salah
satu ion alkaliniti) mengakibatkan terbentuknya kerak pada dinding pipa
yang disebabkan oleh endapan kalsiumkarbonat CaCO3. Kerak
ini akan mengurangi penampang basah pipa dan menyulitkan pemanasan air
dalam ketel, serta mengurangi daya koagulasi yang melalui dalam pipa
dengan menurunnya turbulensi.
Ion kalsium, Ca2+ mempunyai kecenderungan relatif kecil untuk membentuk ion kompleks. Dalam kebanyakan sistem perairan air tawar, jenis kalsium yang pertama-tama larut yang ada adalah Ca2+, oleh karena itu konsentrasi HCO3-yang sangat tinggi, pasangan ion, Ca2+ – HCO3- dapat terbentuk dalam jumlah yang cukup banyak. Hal yang sama dalam air yang kandungan sulfatnya tinggi pasangan ion Ca2+ – SO42- dapat terjadi.
Tidak seperti halnya dengan kalsium yang densitas muatan dari ion Ca2+ relatif lebih kecil dibandingkan dengan lainnya, maka densitas muatan ion Mg2+ jauh
lebih besar dan ikatan yang lebih kuat dengan air untuk melakukan
hidrasi. Magnesiun dalam air terutama terdapat sebagai ion Mg2+ HCO3- dan Mg2+ SO42- terjadi bila konsentrasi bikarbonat dan sulfat yang tinggi.
Mineral-mineral seperti dolomit adalah paling umum dalam air.
CaMg (CO3)2 + 2 CO2 +2 H2O Ca2+ + Mg2+ + 4 HCO3-
Pelunakan
adalah penghapusan ion-ion tertentu yang ada dalam air dan dapat,
bereaksi dengan zat-zat lain hingga distribusi air dan penggunaannya
terganggu.
Kesadahan dalam air terutama disebabkan oleh ion-ion Ca2+ dan Mg2+, juga oleh Mn2+, Fe2+ dan
semua kation yang bermuatan dua. Air yang kesadahannya tinggi biasanya
terdapat pada air tanah di daerah yang bersifat kapur.
Sebagai kation kesadahan, Ca2+ selalu berhubungan dengan anion yang terlarut khususnya anion alkaliniti : CO32- , HCO3- dan OH-. Ca2+ dapat bereaksi dengan HCO3- membentuk garam yang terlarut tanpa terjadi kejenuhan. Sebaliknya reaksi dengan CO32- akan
membentuk garam karbonat yang larut sampai batas kejenuhan di mana
titik jenuh berubah dengan nilai pH. Bila titik jenuh dilampaui,
terjadi endapan garam kalsium karbonat CaCO3 dan membuat
kerak yang terlihat pada dinding pipa atau dasar ketel. Namun, pada
proses pelunakan ini keadaan harus dibuat sehingga sedikit jenuh, karena
dalam keadaan tidak jenuh terjadi reaksi yang mengakibatkan karat
terhadap pipa. Kerak yang tipis akibat keadaan sedikit jenuh itu justru
melindungi dinding dari kontak dengan air yang tidak jenuh (agresip).
Ion Mg2+ akan bereaksi dengan OH- membentuk garam yang terlarut sampai batas kejenuhan dan mengendap sebagai Mg(OH)2 bila titik kejenuhan dilampaui.
Ion Ca2+ dan Mg2+ diendapkan sebagai CaCO3 dan Mg(OH)3 menurut reaksi keseimbangan kimiawi sebagai berikut :
Mg2+ + 2 OH- Mg(OH)2
Ca2+ + C032- CaCO3
CO32- berasal dari karbondioksida CO2 dan bikarbonat HCO3- yang sudah terlarut dalam air sesuai dengan reaksi berikut :
CO2 + OH- HCO3-
HCO3+ + OH- CO32- + H2O
HCO3+ + OH- CO32- + H2O
Kesadahan
yang terlalu tinggi akan menambah nilai pH larutan sehingga daya kerja
aluminat tidak efektif karena ion aluminium yang bersifat amfoter akan
mengikuti lingkungannya dimana akan terbentuk senyawa aluminium yang
sukar mengendap. Apabila kesadahan terlalu rendah secara simultan
alkalinitas juga cenderung rendah ini akan mengganggu penyusunan ikatan
antara koloida dengan aluminat dimana gugus hidrofobik koloida akan
tetap melayang dan sukar bereaksi dengan koagulan mengakibatkan massa
atom relatif ringan sehingga sukar mengendap.
Kesadahan
ini umumnya dihilangkan menggunakan resin penukar ion. Resin pelunak
air komersial dapat digunakan dalam skala kecil, meskipun demikian tidak
efektif digunakan untuk sekala besar. Resin adalah zat yang punya pori
yang besar dan bersifat sebagai penukar ion yang berasal dari polysterol, atau polyakrilat yang
berbentuk granular atau bola kecil dimana mempunyai struktur dasar yang
bergabung dengan grup fungsional kationik, non ionik/anionik atau asam.
Sering kali resin dipakai untuk menghilangkan molekul yang besar dari
air misalnya asam humus, liqnin, asam sulfonat. Untuk regenerasi dipakai
garam alkali atau larutan natrium hidroksida, bisa juga dengan asam
klorida jika dipakai resin dengan sifat asam. Dalam
regenerasi itu dihasilkan eluen yang mengandung organik dengan
konsentrasi tinggi. Untuk proses air minum sampai sekarang hunya dipakai
resin dengan sifat anionik.
Resin
penukar ion sintetis merupakan suatu polimer yang terdiri dari dua
bagian yaitu struktur fungsional dan matrik resin yang sukar larut.
Resin penukar ion ini dibuat melalui kondensasi phenol dengan
formaldehid yang kemudian diikuti dengan reaksi sulfonasi untuk
memperoleh resin penukar ion asam kuat.
Sedangkan
untuk resin penukar ion basa kuat diperoleh dengan mengkondensasikan
phenilendiamine dengan formaldehid dan telah ditunjukkan bahwa baik
resin penukar kation dan resin penukar anion hasil sintesis ini dapat
digunakan untuk memisahkan atau mengambil garam – garam.
Pada
umumnya senyawa yang digunakan untuk kerangka dasar resin penukar ion
asam kuat dan basa kuat adalah senyawa polimer stiren divinilbenzena.
Ikatan kimia pada polimer ini amat kuat sehingga tidak mudah larut dalam
keasaman dan sifat basa yang tinggi dan tetap stabil pada suhu diatas
150oC.
Polimer
ini dibuat dengan mereaksikan stiren dengan divinilbenzena, setelah
terbentuk kerangka resin penukar ion maka akan digunakan untuk
menempelnya gugus ion yang akan dipertukarkan.
Resin
penukar kation dibuat dengan cara mereaksikan senyawa dasar tersebut
dengan gugus ion yang dapat menghasilkan (melepaskan) ion positif. Gugus
ion yang biasa dipakai pada resin penukar kation asam kuat adalah gugus
sulfonat dan cara pembuatannya dengan sulfonasi polimer polistyren
divinilbenzena (matrik resin).
Resin
penukar on yang direaksikan dengan gugus ion yang dapat melepaskan ion
negatif diperoleh resin penukar anion. Resin penukar anion dibuat dengan
matrik yang sama dengan resin penukar kation tetapi gugus ion yang
dimasukkan harus bisa melepas ion negatif, misalnya –N (CH3)3+ atau
gugus lain atau dengan kata lain setelah terbentuk kopolimer styren
divinilbenzena (DVB), maka diaminasi kemudian diklorometilasikan untuk
memperoleh resin penukar anion.
Gugus
ion dalam penukar ion merupakan gugus yang hidrofilik (larut dalam
air). Ion yang terlarut dalam air adalah ion – ion yang dipertukarkan
karena gugus ini melekat pada polimer, maka ia dapat menarik seluruh
molekul polimer dalam air, maka polimer resin ini diikat dengan ikatan
silang (cross linked) dengan molekul polimer lainnya, akibatnya akan mengembang dalam air.
Mekanisme
pertukaran ion dalam resin meskipun non kristalisasi adalah sangat
mirip dengan pertukaran ion- ion kisi kristal. Pertukaran ion dengan
resin ini terjadi pada keseluruhan struktur gel dari resin dan tidak
hanya terbatas pada efek permukaan. Pada
resin penukar anion, pertukaran terjadi akibat absorbsi kovalen yang
asam. Jika penukar anion tersebut adalah poliamin, kandungan amina resin
tersebut adalah ukuran kapasitas total pertukaran.
Dalam
proses pertukaran ion apabila elektrolit terjadi kontak langsung dengan
resin penukar ion akan terjadi pertukaran secara stokiometri yaitu
sejumlah ion – ion yang dipertukarkan dengan ion – ion yang muatannya
sama akan dipertukarkan dengan ion – ion yang muatannya sama pula dengan
jumlah yang sebanding.
Material penukar ion yang utama berbentuk butiran atau granular dengan struktur dari molekul yang panjang (hasil co-polimerisasi), dengan memasukkan grup fungsional dari asam sulfonat, ion karboksil. Senyawa ini akan bergabung dengan ion pasangan seperti Na+, OH− atau H+.
Senyawa ini merupakan struktur yang porous. Senyawa ini merupakan
penukar ion positif (kationik) untuk menukar ion dengan muatan
elektrolit yang sama (positif) demikian sebaliknya penukar ion negatif
(anionik) untuk menukar anion yang terdapat di dalam air yang diproses
di dalam unit “Ion Exchanger”.
Proses pergantian ion bisa “reversible”
(dapat balik), artinya material penukar ion dapat diregenerasi. Sebagai
contoh untuk proses regenerasi material penukar kationik bentuk Na+ dapat diregenerasi dengan larutan NaCl pekat, bentuk H+ diregenerasi dengan larutan HCl sedangkan material penukar anionik bentuk OH− dapat diregenerasi dengan larutan NaOH (lihat buku panduan dari pabrik yang menjual material ini).
Regenerasi
adalah suatu peremajaan, penginfeksian dengan kekuatan baru terhadap
resin penukar ion yang telah habis saat kerjanya atau telah terbebani,
telah jenuh. Regenerasi penukaran ion dapat dilakukan dengan mudah
karena pertukaran ion merupakan suatu proses yang reversibel yang perlu
diusahakan hanyalah agar pada regenerasi berlangsung reaksi dalam arah
yang berkebalikan dari pertukaran ion.
A. Proses Soda Kapur
Pada proses ini sadah direaksikan dengan soda Na2CO3 dan kapur Ca(OH)2 sehingga ion Mg2+ dan ion Ca2+ diendapkan. Reaksinya :
Ca(HCO3)2 (ag) + Ca(OH)2 (ag) --> 2CaCO3 (s) + 2H2O (l)
MgSO4 (ag) + Ca(OH2)2 (ag) --> Mg(OH)2 (s) + CaSO4 (ag)
CaSO4 (ag) + Na2CO3 (ag) --> CaCO3 (s) + Na2SO4 (ag)
B. Proses Zeolit
Dengan ini air sadah dialirkan melalui Natrium Zeolit, sehingga ion Ca2+ dan ion Mg2+ akan diikat zeolit, menggantikan ion Na+ membentuk kalsium/magnesium zeolit.

Posting Komentar untuk "Materi Air Sadah Kelas XII SMA"
Berkomentarlah Dengan kata-kata yang sopan dan santun.....
Posting Komentar